Aku terus mengeluh pada Yudi kalau aku tidak bisa berjalan dengan sandal yang tinggi sebelah. Sehabis dari mushola sandal sebelahku menjadi berhak dan sebelahnya lagi datar, modelnya memang mirip tapi seharusnya orang yang menggunakan sebelah sandalku sadar kalau yang dia pakai tidak berhak. Kecuali kalau kaki orang itu memang pendek sebelah.
Yudi membantuku mencari sandal. Mengintip ke bawah kursi orang-orang di ruang tunggu Apotek. Tapi tak ada yang menggunakan sandal sepertiku. Dia pun bilang kalau aku bisa membeli sandal baru, dan aku semakin kesal padanya. Bagiku sandal itu sangat berarti karena itu kado pertama darinya dan aku tak ingin kehilangan sandal itu.
“Kakak cari apa?” tanya seorang anak kecil padaku.
“Aku cari sandal dek,” jawabku.
Saat sadar anak berusia sekitar lima tahun itu tidak dengan orang tuanya aku bertanya, “Kamu cari ibumu?”
“Tidak,” jawabnya polos sambil ikut mengintip ke bawah kursi.
“Aku mencari pacar,” katanya lagi dan aku mendongkak hingga terbentur kursi.
Yudi mengusap kepalaku dan dia terlihat menahan tawanya.
“Aku cari pacar yang cantik seperti Ibu,” lanjutnya sambil duduk di atas kursi dan mengayunkan kaki kecilnya yang tidak menyentuh lantai.
Aku ikut duduk di sampingnya dan berkata, “Pacarmu juga harus baik.”
Yudi yang duduk di hadapanku terlihat sangat tertarik pada anak kecil ini. Dia bertanya, “Memang pacar itu apa?”
“Kakak perempuan,” jawabnya polos.
Aku dan Yudi saling berpandangan dan tak bisa lagi menahan tawa. Sedangkan anak itu sama sekali tidak terganggu dengan tawa kami, dia semakin asik mengayunkan kakinya dan akhirnya menjatuhkan kepalanya di pangkuanku.
Aku mengelus kepalanya hingga dia tertidur.
“Kalian cocok sekali,” goda Yudi sambil tersenyum dengan sangat manis.
Beberapa saat kemudian, seorang ibu berlari dengan terpincang-pincang ke arahku. Dia bertanya, “maaf, bukankah itu sandal milik_?”
Sebelum dia melanjtukan kata-katanya aku langsung mengiyakan. Dia menggunakan sandalku! Kami bertukar sandal dan tertawa sendiri, kami merasa ini kejadian yang angat aneh.
“Maaf mungkin anak saya yang membawa sandal ini dan menukarnya dengan sandalmu,” katanya malu.
Ibu itu masih muda dan cantik. Matanya lembut memandangku dengan perasaan bersalah. Lalu dia terkejut melihat anak yang tertidur di pangkuanku.
“Ini anak saya kan?” Tanyanya.
“Oh jadi ini anak anda?”
“Iya! Dia anak yang sangat nakal!” serunya kesal.
Dia mencubit pipi anaknya sampai terbangun. Begitu melihat ibunya dia menangis. Aku tak tahu apakah dia menangis karena sakit dicubit atau terharu karena bertemu dengan ibunya lagi.
Ibu muda itu sekali lagi minta maaf. Dia menggendong anaknya dan setelah beberapa langkah menjauhi kami, anak itu berkata, “Ibu aku punya pacar!”
Ibu itu terkejut mendengar kata-kata anaknya. Dan anak itu berkata lagi, “Dia secantik ibu dan.. Dia baik!”
Lalu ibu itu menoleh ke belakang dan tersenyum ke arahku. Anak itu dengan semangat melambaikan tangannya. Matanya masih berkaca-kaca, tapi senyumnya terkembang dengan sangat cerah.
“Jadi sekarang kamu pacaran dengan anak itu?” goda yudi.
Aku hanya tersenyum dan mengomentari sandalaku, “Akhirnya aku menemukan sandal ini!”
“Sepertinya sandal itu lebih berharga dariku,” sindirnya.
Aku tersenyum lagi dan menyimpan jawabannya di hatiku. Bagiku kamu adalah yang paling berharga. Aku tak mau kehilangan apa pun yang berkaitan denganmu.
Aku memandang jauh ke setitik bayangan ibu dan anak itu. Seperti mereka, saat kehilangan sesuatu, mereka mencari sesuatu itu dengan mengkaitkannya pada orang yang mereka sayang. Meskipun sesuatu itu tampak lebih berharga, sebenarnya itu cara mereka merindukan orang yang mereka sayang dan mereka tak ingin kehilangan apa pun yang berkaitan dengannya. Dan menurutku itu adalah kasih yang tulus.
Sesaat kemudian aku teringat kata terakhir anak itu. Apakah itu artinya aku kekasih si kaki kecil? tanya hatiku. Aku tertawa sendiri hingga Yudi bingung dan bertanya, “Kenapa kamu tertawa?”
Aku lagi-lagi hanya menjawabnya dengan senyuman.
Dia menyentuh dahiku lalu berkata, “Demammu makin parah ya?” Dan saat itu aku sadar bahwa aku telah memiliki kasih itu sejak lama. Kasih dari seorang sahabat yang selalu ada di dekatku.
(8 februari 2011 pukul 03.33 pm – cerita ini dari mimpiku J)